HIDUP BUKAN BERPATOKAN PADA TUJUAN ATAU HASIL TAPI CARANYA, PERCUMA HIDUP KAYA TAPI DARI HASIIL BERBUAT CURANG!!

HIDUP BUKAN BERPATOKAN PADA TUJUAN ATAU HASIL TAPI CARANYA, PERCUMA HIDUP KAYA TAPI DARI HASIIL BERBUAT CURANG!!

Memang selalu berlaku pegangan bahwa yang terpenting adalah tujuan, dan tujuan menghalalkan segala cara. Kita sendiri memang seringkali lupa akan hal ini. Kita mengagungkan tujuan dengan sebutan cita-cita yang muluk-muluk, yang kita kejar-kejar. Padahal, dalam pengejaran tujuan inilah letak bahayanya, yaitu dalam caranya.

Cara atau jalan untuk mengejar cita-cita ini kadang berbahaya sekali. Kita terbius oleh gemerlapnya tujuan sehingga untuk mendapatkannya, kita lupa bahwa cara yang kita pergunakan tidak benar. Padahal, bukan tujuannya yang menjadi ciri baik buruknya perbuatan, melainkan cara itu sendiri. Kalau cara yang dipergunakan itu buruk, bagaimana mungkin dapat mencapai tujuan yang baik? Gemerlapnya tujuan memang condong untuk membuat kita lupa akan cara kita yang kita pergunakan. Misalnya, demi untuk tujuan memberi kehidupan mewah kepada anak isteri, kita melakukan korupsi atau mencuri.

Demi untuk tercapainya tujuan menjadi sarjana atau pegawai negeri kita melakukan sogokan dan suapan agar diterima kerja atau atau tindakan membeli ijazah. Tujuan itu tentu sifatnya menyenangkan dan menyenangkan itu mendorong nafsu untuk mendapatkannya. Segala nafsu itu wajar saja, akan tetapi kalau kita sudah diperbudaknya, celakalah kita, Nafsu mencari keuntungan itu wajar saja, akan tetapi kalau kita diperbudak, kita bisa saja menipu atau mencuri. Nafsu sex itu wajar saja, akan tetapi kalau kita diperbudak, kita bisa saja melacur memperkosa dan sebagainya lagi. Demikian dengan mengejar kedudukan, harta benda, nama dan pengejaran apa saja yang menjadi cita-cita dapat menyelewengkan kita. Betapa baik dan muliapun tujuan yang hendak kita capai, bisa saja melahirkan cara pengejaran yang menyeleweng.