Kejayaan olahraga Indonesia di masa lalu

GANEFO, KISAH BUNG KARNO MEMBUAT OLIMPIADE TANDINGAN, MEMBUAT INDONESIA MENJADI SALAH SATU NEGARA OLAHRAGA TERKUAT DUNIA….

Olahraga tak bisa dipisahkan dari politik. Itu keyakinan Bung Karno saat mengusung Games of the New Emerging Forces (Ganefo). Di tangan Bung Besar, olahraga menjelma menjadi kekuatan maha dahsyat yang melambungkan bangsa.

Diboikot Komite Olimpiade Internasional (KOI) di pesta olahraga multievent dunia, Olimpiade, tak membuat Bung Karno gentar. Apalagi kelimpungan dan menjadi tak percaya diri. Ganefo pun digelar di Jakarta pada 10 – 22 Nopember 1963 sebagai tandingan.

Tak diundangnya Indonesia pada Olimpiade Tokyo 1964 adalah sanksi yang harus diterima menyusul tidak diundangnya Israel dan Taiwan saat menggelar Asian Games 1962 di Jakarta. Pesta olahraga multievent antar-bangsa Asia tersebut digelar pada 24 Agustus – 4 September 1962.

Mengusung semboyan Onward! No Retreat (Maju Terus! Pantang Mundur) dengan melibatkan 2.200 atlet dari 51 negara kawasan Asia, Afrika, Amerika Latin, dan Eropa (Timur), Ganefo layak disebut olimpiade tandingan. Dunia pun terperangah. Sama terperangahnya dunia saat Indonesia menggelar Asian Games IV 1962.

“Ini adalah awal bangsa kita menjadi bintang pedoman bangsa-bangsa di dunia. Semua olahraga dari negara-negara di dunia ini, berlomba di sini. Kita tunjukkan pada dunia, Indonesia bangsa yang besar, yang mampu maju ke muka memimpin pembebasan bangsa-bangsa di dunia menuju dunia barunya,” kata Bung Karno di depan maket Komplek Gelora Bung Karno, sebelum kedua pesta olahraga multievent itu tergelar.

Terkait dunia baru impiannya, pada 1961 Presiden RI pertama ini meluncurkan gagasan dalam memandang dunia, yaitu Nefo dan Oldefo. Nefo (The new emerging forces) mewakili kekuatan kelompok negara yang ingin bebas dari neo-kolonialisme dan imperialisme. Negara-negara kawasan Asia, Afrika, Amerika Latin ini berusaha membangun tatanan dunia baru yang bebas dari exploitation de l’homme par l’homme. Sebaliknya, Oldefo (The old esthablished forces) merujuk kepada negeri-negeri imperialis.

Setelah era perjuangan fisik meraih kemerdekaan usai, Bung Karno menegaskan perlunya revolusi mental untuk membangun bangsa dan karakternya (nation and character building). Olahraga, selain menjadi alat pembentuk jasmani, diyakini Bung Karno sangat efektif sebagai alat pembangun mental bangsa.

Terbukti, Bung Karno benar-benar melambungkan Indonesia ke atap dunia melalui kedua pesta olahraga tersebut. Dunia terbelalak. Ada negara besar bernama Indonesia.

Tak hanya Stadion Utama Gelora Bung Karno dengan atap temu gelangnya membuat dunia tersentak, prestasi olahraga Indonesia pun menyentak dunia. Tak perlu strategi rancang merancang cabang olahraga aneh-aneh seperti saat ini, atlet Indonesia kala itu benar-benar berprestasi spektakuler pada cabang-cabang prestisius.

Muhammad Sarengat tampil sebagai manusia tercepat Asia pada Asian Games 1962. Kwartet pembalap sepeda, Hendrik Brocks, Aming Priatna, Wahju Wahdini, dan Hasjim Roesli, merebut emas nomor 100 kilometer Team Time Trial. Keempat pembalap ini ditambah Frans Tupang dan Henry Hargini, juga menjadi yang terbaik di nomor 180 km Open Road Race.

Hendrik, belakangan dikenal sebagai Hendra Gunawan, mengulang prestasi emas saat berlaga di Ganefo di nomor 180 km Open Road Race Individu. Hendrik, menjadi atlet pertama Indonesia yang sukses merebut tiga medali emas di Asian Games.

Tim bulutangkis juga mencatatkan diri sebagai yang pertama merebut emas di pentas Asian Games. Nomor beregu putri yang diperkuat Minarni, Retno Kustijah, Corry Kawilarang, Happy Herowaty, dan Goei Kiok Nio menyumbang emas. Begitu pun beregu putra yang diperkuat Ferry Sonneville dan Tan Joe Hok.

Minarni mengulang emas di nomor tunggal putri dan ganda putri berpasangan dengan Retno Kustijah. Tan Joe Hok melengkapinya di nomor tunggal putra. Supremasi bulutangkis Indonesia ditunjukkan dengan raihan lima emas.

Peloncat indah Lany Gumulya tampil mengejutkan dengan menyisihkan favorit juara, Sakuko Kadakura dan Sakoko Tomoe, dari Jepang. Total, Indonesia mengemas 21 medali emas, 26 perak, dan 30 perunggu dan berada di peringkat kedua di belakang Jepang dengan 73 emas, 65 perak, dan 23 perunggu.

Di pentas Ganefo, Indonesia sukses menempati urutan ketiga dengan 17 medali emas, 24 perak, dan 71 perunggu. Soviet menjadi pemuncak klasemen dengan 65 emas, 56 perak, dan 47 perunggu disusul Republik Rakyat Tiongkok (sekarang China) di urutan kedua dengan 39 emas, 20 perak, dan delapan perunggu.

“Buat apa toh sebetulnya kita ikut-ikutan Asian Games? Kita harus mengangkat kita punya nama. Nama kita yang tiga setengah abad tenggelam dalam kegelapan,” tegas Bung Karno tentang ambisinya menggelar pesta olahraga multievent antar bangsa tersebut.

Proyek mercusuar yang terbukti sukses. Indonesia makin diperhitungkan dunia. Belakangan, beberapa pemimpin dunia pun mengadopsi gagasan besar Bung Karno. Nelson Mandela sukses mempersatukan bangsa melalui gawe besar olahraga, Piala Dunia Rugby dan Sepakbola.

Mahathir Muhamad dikenal sebagai Bung Karno Kecil melalui proyek olahraga. Kejuaraan balap sepeda nomor tiga dunia, Le Tour de Langkawi, serta Balap F1 dan MotoGP di Sirkuit Sepang, membuat Malaysia makin dikenal dunia.

Negara-negara berlomba, bahkan saling mengalahkan, untuk bisa terpilih jadi tuan rumah pesta olahraga single event atau multievent bergengsi seperti Olimpiade dan Piala Dunia. Mereka sadar, lewat olahraga harga diri dan kebesaran bangsa terlambungkan.

Lantas bagaimana dengan Indonesia? Olahraga tak lagi dianggap penting. Indonesia makin terseok-seok di berbagai even olahraga. Para pemimpin bangsa ini lebih sibuk memikirkan yang lain.

Jika saja Bung Karno masih ada, barangkali Indonesia sudah beberapa kali menjadi tuan rumah Asian Games, Olimpiade, bahkan Piala Dunia. Ingat, Ramang cs pernah mengejutkan dunia saat tampil di Olimpiade Melbourne 1956.

Ironis, saat negara pengekor gagasan Bung Karno berderap, Indonesia justru jalan di tempat, kalau tak bisa dikatakan mundur ke belakang. Jangankan Olimpiade dan Piala Dunia, mengulang gilang gemilang tuan rumah Asian Games 1962 seperti era Bung Karno pun Indonesia tak mampu. Ya, betapa rindunya kami pada kebesaran yang kau suluhkan, Bung. Betapa rindunya kami padamu Bung Karno. (yuliani s prawira)